5 Legendaris penyerang terbaik timnas indonesia
Posisi penyerang adalah posisi yang paling diapresiasi dalam dunia sepak bola. Nilai pemain di posisi ini begitu berharga jika harus dicairkan dalam uang dan diterjemahkan untuk kepentingan sepak bola itu sendiri.
Dari posisi inilah kerap lahir momentum gol yang dibutuhkan sebagai penentu hasil pertandingan, karena mereka-mereka yang berdiri sebagai penyerang bisa dilihat sebagai pemain yang paling sering mendekati gawang lawan dan melakukan penyelesaian dari sebuah proses serangan, terlepas dari fakta apakah mereka terlibat dalam proses itu sendiri atau 'hanya' seseorang dengan satu dua sentuhan terakhir yang akurat dan berada di waktu dan posisi yang tepat.
Indonesia sendiri sudah pernah memiliki banyak penyerang handal. Ada yang namanya masih begitu melekat di benak pecinta sepak bola Asia Tenggara meski sudah satu dekade pensiun dari dunia internasional, ada juga seorang legenda dengan status pencetak gol terbanyak timnas Indonesia. Kembali pada fakta bahwa penyerang adalah posisi yang memungkinkan pemerannya mendapatkan apresiasi lebih mudah dan lebih tinggi dibanding posisi lainnya, maka untuk masuk dalam kategori terbaik si penyerang harus memiliki faktor pembeda yang menonjol dibanding nama-nama lainnya.
Lantas siapa saja yang masuk dalam kategori penyerang terbaik yang pernah membela timnas Indonesia?
1. Adityo Darmadi
Sepakbola Indonesia di era 1980an juga mengenal sosok Adityo Darmadi, yang dikenang sebagai legenda Persija Jakarta dan timnas Indonesia. Gaya mainnya yang konvensional ala striker klasik nomor 9 terbukti efektif bagi Macan Kemayoran dan juga Merah Putih. Permainan Darmadi juga menghibur pecinta sepakbola Indonesia kala itu.
Mengawali karier di Persija pada 1985 bersama kakak kandungnya, Didik Darmadi, Adityo bergabung dengan tim besutan Reni Salaki dari klub Indonesia Muda yang bermain di kompetisi Galatama. Keduanya bermain di posisi yang berbeda: Didik seorang full back, sementara Adityo penyerang, dengan kontribusi yang sama baiknya untuk Persija.
Bak Tachibana Bersaudara di anime “Tsubasa”, keduanya bekerja sama menyelamatkan Persija dari jurang degradasi pada 1985 saat melakoni play-off melawan Persema Malang, Persiba Balikpapan, dan PSIM Yogyakarta.
Sejak saat itu, Adityo terus mengukir sejarah di sepakbola Indonesia dengan klimaks penampilannya terjadi di SEA Games 1987. Jika di tahun sebelumnya membawa timnas Indonesia menduduki peringkat empat Asian Games, kali ini Adityo membantu tim asuhan Sinyo Aliandoe menjuarai SEA Games 1987 di Jakarta. Adityo memang tidak mencetak gol karena gol tunggal kemenangan 1-0 Indonesia atas rival bebuyutan, Malaysia, dicetak oleh Ribut Waidi kala itu, namun kontribusinya tak kalah hebat dari Waidi atau bahkan Ricky Yakobi.
Striker kelahiran Solo 12 November 1961 merupakan top skorer Perserikatan Divisi Utama pada 1986 dan masuk ke timnas di era yang sama dengan Ricky, yang menjadi pemain terbaik di Galatama. Menjuarai SEA Games 1987 pun jadi salah satu momen yang dikenang Adityo, “Itu pencapaian terbaik saya bersama timnas Indonesia, selain peringkat keempat Asian Games 1986.”
2. Risdianto
Bersanding dengan nama-nama besar seperti Iswadi Idris, Sutan Harhara, dan Anjas Asmara, Risdianto juga pernah mengukir sejarah melalui momen-momen keemasannya di era 1970an. Beliau merupakan penyerang kelahiran Pasuruan, Jawa Timur pada 3 Januari 1950 yang mengawali kariernya di Persekap Pasuruan sebelum akhirnya pindah ke Jakarta pada 1971.
Risdianto muda kala itu bermain untuk UMS dan bersaing di kompetisi internal Persija, sebelum akhirnya Persija merekrutnya di tahun yang sama. Baru berusia 21 tahun, Risdianto sudah harus menanggung beban sebagai pengganti legenda Persija dan timnas Indonesia, Soetjipto Soentoro. Kendati demikian, Risdianto yang dikenal sebagai striker lincah dan tajam di dalam kotak penalti, mampu menjawab ekspektasi yang membandingkannya dengan Soetjipto.
Tak ayal nama Risdianto selalu menghiasi timnas Indonesia sejak 1971. Bersama Skuat Garuda, Risdianto pernah menjuarai Anniversary Cup 1972, meraih medali perak di SEA Games 1981 dan perunggu di SEA Games 1981. Bahkan, Risdianto termasuk dalam skuat pra Olimpiade 1976 Indonesia yang berada di grup yang sama dengan Korea Utara, Malaysia, Singapura, dan Papua Nugini.
Risdianto turut mencetak gol kemenangan 2-1 Indonesia atas Malaysia sebelum akhirnya kalah di laga terakhir kontra Korea Utara (Korut). Indonesia yang dilatih Wiel Coerver saat itu, kalah via drama adu penalti dengan Korut setelah imbang tanpa gol di waktu normal. Meski begitu, nama Risdianto selalu ada dalam sejarah sepakbola Tanah Air sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah memperkuat timnas Indonesia.
Kesuksesan dirasakan Risdianto di level klub dan timnas, namun, selain itu ada juga momen-momen berkesan darinya ketika beliau bermain melawan Santos, Manchester United, dan Ajax Amsterdam. Risdianto membobol gawang Santos yang diperkuat Pele dan juga Ajax Amsterdam yang kala itu jadi kekuatan mengerikan di Eropa.
3. Ricky Yacobi
Di era modern nama Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, dan Boaz Solossa lebih terdengar familiar di kuping penggemar sepakbola Indonesia, tetapi, jauh di era 1980an ada seorang legenda yang namanya akan selalu dikenang sebagai striker terbaik Indonesia, dia adalah Ricky Yacob atau yang lebih dikenal dengan nama Ricky Yacobi.
"Nama Ricky akan terus diingat sampai kapan pun. Masyarakat Indonesia akan selalu mengenang Ricky sebagai salah satu pesepak bola terbaik di Tanah Air," tutur Rahmad Darmawan, eks pelatih timnas Indonesia yang kini melatih klub Malaysia, T-Team.
Nama Yacobi sendiri muncul ketika ia bermain untuk klub Jepang, Matsushita FC (sekarang bernama Gamba Osaka) pada 1988. Ia lebih diakrab dipanggil Yacobi selama berada di Negeri Sakura, hingga namanya pun berubah menjadi Ricky Yacobi. Sayang, kepopuleran namanya itu tak sebaik performanya saat membela Matsushita.
Aksi Ricky di level klub memang tidak sementereng ketika pria kelahiran Medan itu bermain untuk timnas Indonesia. Selama berkarier di kancah sepakbola nasional, Ricky membela PSMS Medan, Arseto Solo, PS BPD Jateng, dan PSIS Semarang. Ia juga pernah menjadi top skor Galatama pada 1987 dan 1990.
Penyerang kelahiran 12 Maret 1963 juga dikenal sebagai Paul Breitner-nya Indonesia karena memiliki gaya main yang serupa: cepat, lincah, dan tajam. Breitner sendiri merupakan legenda timnas Jerman dan Bayern Munich. Momen yang paling dikenang dari Yacobi terjadi kala membela timnas terjadi di Asian Games 1986 dan juga SEA Games 1987.
Di Asian Games yang berlangsung di Korea Selatan (Korsel), Indonesia berada di grup C bersama Arab Saudi, Qatar, dan Malaysia. Indonesia lolos dengan catatan satu kali menang (1-0 kontra Malaysia), imbang (1-1 kontra Qatar), dan kalah (0-2 dari Arab Saudi). Di perempat final Indonesia berjumpa dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan di sini lah momen terbaik Ricky muncul.
Berada di jarak yang cukup jauh untuk mencetak gol, Ricky memperlihatkan naluri sebagai striker yang haus gol dengan melesakkan sepakan first time –bola belum menyentuh tanah- yang merobek gawang UEA. Skor pada kala itu berakhir 2-2 di waktu normal dan Indonesia lolos ke semifinal via kemenangan dari drama adu penalti. Tapi sayang, di semifinal mereka kalah telak 0-4 dari Korsel.
Tak mau larut dari kekalahan di Korsel, Ricky menebusnya dengan performa gemilang di ajang SEA Games 1987. Bersama Robby Darwis, Rully Nere, Jaya Hartoni, Ricky yang ditunjuk sebagai kapten oleh Bertje Matulapelwa (pelatih timnas Indonesia kala itu) mengantarkan Indonesia mengukir sejarah raihan medali emas pertama di ajang SEA Games.
Di final, Indonesia menang dramatis 1-0 atas Malaysia setelah melalui 90 menit pertandingan tanpa gol. Gol tercipta di babak tambahan melalui gol Ribut Waidi. Sejarah pun akan terus mengenang skuat yang dikapteni Ricky tersebut untuk sepanjang masa. Kini, Ricky menjalani kesibukannya sebagai pengelola sekolah sepakbola (SSB) Ricky Yacobi yang terletak di bilangan kompleks olahraga Senayan, Jakarta Pusat.
4. Kurniawan Dwi Yulianto
Kurniawan Dwi Yulianto merupakan salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki timnas Indonesia. Pemain yang dijuluki Si Kurus tersebut telah mengantongi 60 caps dengan koleksi 31 gol. Hingga 2014 lalu, Kurniawan juga telah membela 15 klub dari berbagai level kompetisi dalam maupun luar negeri. Ia merupakan produk program PSSI Primavera pada 1993.
Di era 90-an, Kurniawan merupakan striker yang sangat ditakuti oleh tim lawan. Pria kelahiran Magelang, 13 Juli 1976 itu punya kecepatan, kelincahan, dan akurasi tembakan penyelesaian yang menawan. Namun, dari pengakuannya sendiri, awalnya ia sebetulnya berposisi sebagai seorang bek.
Ia memulai karirnya di Diklat Salatiga dan kemudian hijrah ke Diklat Ragunan sebelum dikirim ke Italia untuk program PSSI Primavera yang berlaga di Italia kasta Serie C2.
Kurniawan sempat berlabuh di klub Swiss, FC Luzern, dan mengaku memiliki satu memori manis di sana. Pada 9 April 1995, FC Luzern menghadapi laga derbi kontra FC Basel. Ia mencetak gol kemenangan dalam laga yang berakhir 2-1 tersebut.
Memutuskan pensiun dari timnas pada 2005 dan dari sepak bola secara keseluruhan pada 2014, Kurniawan yang kini beristrikan seorang perempuan Malaysia itu aktif dalam Yayasan Olahraga Anak Nusantara yang dibentuknya bersama Melanie Putri dan Ibnu Jamil. Meski sudah memiliki lisensi kepelatihan yang mengijinkannya untuk melatih klub, Kurniawan berdalih lebih fokus ke pendidikan usia dini untuk anak-anak yang mencintai sepak bola dan olahraga lainnya.
5. Bambang Pamungkas
Mantan pemain Persija yang akrab disapa Bepe ini adalah pemegang caps terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak untuk tim Merah Putih, yaitu bermain sebanyak 82 kali (laga yang terdaftar dalam oleh FIFA) dan mencetak 37 gol.
Pria kelahiran 10 Juni 1980 ini pernah merajai Asia Tenggara ketika menjadi top skor Piala Tiger (sekarang Piala AFF) tahun 2002, di mana ia mencetak delapan gol dalam enam pertandingan yang dijalaninya.
Tahun 2002 memang merupakan tahun emas bagi Bambang Pamungkas. Sepak terjangnya di Piala Tiger kala itu sungguh luar biasa. Setelah mencetak hat-trick kontra Kamboja dalam kemenangan 4-2 dan empat gol saat menghadapi Filipina (13-1), ia kembali menjadi pahlawan timnas dengan mencetak gol tunggal ke gawang Malaysia dalam babak semi-final. Gol yang tercipta di menit ke-75 tersebut disambut meriah oleh puluhan ribu suporter yang memadati Gelora Bung Karno. Namun, Bambang gagal mempersembahkan gelar juara untuk Indonesia setelah Merah Putih dikalahkan Thailand di partai final.
Itu lah 5 penyerang terbaik legendaris timnas Indonesia yang berkilau pada masa nya. dan masih akan banyak lagi pembahasan tentang seputar seputar bola
ini. silahkan di ikuti dan terimakasih
Dari posisi inilah kerap lahir momentum gol yang dibutuhkan sebagai penentu hasil pertandingan, karena mereka-mereka yang berdiri sebagai penyerang bisa dilihat sebagai pemain yang paling sering mendekati gawang lawan dan melakukan penyelesaian dari sebuah proses serangan, terlepas dari fakta apakah mereka terlibat dalam proses itu sendiri atau 'hanya' seseorang dengan satu dua sentuhan terakhir yang akurat dan berada di waktu dan posisi yang tepat.
Indonesia sendiri sudah pernah memiliki banyak penyerang handal. Ada yang namanya masih begitu melekat di benak pecinta sepak bola Asia Tenggara meski sudah satu dekade pensiun dari dunia internasional, ada juga seorang legenda dengan status pencetak gol terbanyak timnas Indonesia. Kembali pada fakta bahwa penyerang adalah posisi yang memungkinkan pemerannya mendapatkan apresiasi lebih mudah dan lebih tinggi dibanding posisi lainnya, maka untuk masuk dalam kategori terbaik si penyerang harus memiliki faktor pembeda yang menonjol dibanding nama-nama lainnya.
Lantas siapa saja yang masuk dalam kategori penyerang terbaik yang pernah membela timnas Indonesia?
1. Adityo Darmadi
![]() |
| adityo darmadi |
Sepakbola Indonesia di era 1980an juga mengenal sosok Adityo Darmadi, yang dikenang sebagai legenda Persija Jakarta dan timnas Indonesia. Gaya mainnya yang konvensional ala striker klasik nomor 9 terbukti efektif bagi Macan Kemayoran dan juga Merah Putih. Permainan Darmadi juga menghibur pecinta sepakbola Indonesia kala itu.
Mengawali karier di Persija pada 1985 bersama kakak kandungnya, Didik Darmadi, Adityo bergabung dengan tim besutan Reni Salaki dari klub Indonesia Muda yang bermain di kompetisi Galatama. Keduanya bermain di posisi yang berbeda: Didik seorang full back, sementara Adityo penyerang, dengan kontribusi yang sama baiknya untuk Persija.
Bak Tachibana Bersaudara di anime “Tsubasa”, keduanya bekerja sama menyelamatkan Persija dari jurang degradasi pada 1985 saat melakoni play-off melawan Persema Malang, Persiba Balikpapan, dan PSIM Yogyakarta.
Sejak saat itu, Adityo terus mengukir sejarah di sepakbola Indonesia dengan klimaks penampilannya terjadi di SEA Games 1987. Jika di tahun sebelumnya membawa timnas Indonesia menduduki peringkat empat Asian Games, kali ini Adityo membantu tim asuhan Sinyo Aliandoe menjuarai SEA Games 1987 di Jakarta. Adityo memang tidak mencetak gol karena gol tunggal kemenangan 1-0 Indonesia atas rival bebuyutan, Malaysia, dicetak oleh Ribut Waidi kala itu, namun kontribusinya tak kalah hebat dari Waidi atau bahkan Ricky Yakobi.
Striker kelahiran Solo 12 November 1961 merupakan top skorer Perserikatan Divisi Utama pada 1986 dan masuk ke timnas di era yang sama dengan Ricky, yang menjadi pemain terbaik di Galatama. Menjuarai SEA Games 1987 pun jadi salah satu momen yang dikenang Adityo, “Itu pencapaian terbaik saya bersama timnas Indonesia, selain peringkat keempat Asian Games 1986.”
2. Risdianto
Bersanding dengan nama-nama besar seperti Iswadi Idris, Sutan Harhara, dan Anjas Asmara, Risdianto juga pernah mengukir sejarah melalui momen-momen keemasannya di era 1970an. Beliau merupakan penyerang kelahiran Pasuruan, Jawa Timur pada 3 Januari 1950 yang mengawali kariernya di Persekap Pasuruan sebelum akhirnya pindah ke Jakarta pada 1971.
Risdianto muda kala itu bermain untuk UMS dan bersaing di kompetisi internal Persija, sebelum akhirnya Persija merekrutnya di tahun yang sama. Baru berusia 21 tahun, Risdianto sudah harus menanggung beban sebagai pengganti legenda Persija dan timnas Indonesia, Soetjipto Soentoro. Kendati demikian, Risdianto yang dikenal sebagai striker lincah dan tajam di dalam kotak penalti, mampu menjawab ekspektasi yang membandingkannya dengan Soetjipto.
Tak ayal nama Risdianto selalu menghiasi timnas Indonesia sejak 1971. Bersama Skuat Garuda, Risdianto pernah menjuarai Anniversary Cup 1972, meraih medali perak di SEA Games 1981 dan perunggu di SEA Games 1981. Bahkan, Risdianto termasuk dalam skuat pra Olimpiade 1976 Indonesia yang berada di grup yang sama dengan Korea Utara, Malaysia, Singapura, dan Papua Nugini.
Risdianto turut mencetak gol kemenangan 2-1 Indonesia atas Malaysia sebelum akhirnya kalah di laga terakhir kontra Korea Utara (Korut). Indonesia yang dilatih Wiel Coerver saat itu, kalah via drama adu penalti dengan Korut setelah imbang tanpa gol di waktu normal. Meski begitu, nama Risdianto selalu ada dalam sejarah sepakbola Tanah Air sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah memperkuat timnas Indonesia.
Kesuksesan dirasakan Risdianto di level klub dan timnas, namun, selain itu ada juga momen-momen berkesan darinya ketika beliau bermain melawan Santos, Manchester United, dan Ajax Amsterdam. Risdianto membobol gawang Santos yang diperkuat Pele dan juga Ajax Amsterdam yang kala itu jadi kekuatan mengerikan di Eropa.
3. Ricky Yacobi
![]() |
| Ricky Yacobi |
Di era modern nama Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, dan Boaz Solossa lebih terdengar familiar di kuping penggemar sepakbola Indonesia, tetapi, jauh di era 1980an ada seorang legenda yang namanya akan selalu dikenang sebagai striker terbaik Indonesia, dia adalah Ricky Yacob atau yang lebih dikenal dengan nama Ricky Yacobi.
"Nama Ricky akan terus diingat sampai kapan pun. Masyarakat Indonesia akan selalu mengenang Ricky sebagai salah satu pesepak bola terbaik di Tanah Air," tutur Rahmad Darmawan, eks pelatih timnas Indonesia yang kini melatih klub Malaysia, T-Team.
Nama Yacobi sendiri muncul ketika ia bermain untuk klub Jepang, Matsushita FC (sekarang bernama Gamba Osaka) pada 1988. Ia lebih diakrab dipanggil Yacobi selama berada di Negeri Sakura, hingga namanya pun berubah menjadi Ricky Yacobi. Sayang, kepopuleran namanya itu tak sebaik performanya saat membela Matsushita.
Aksi Ricky di level klub memang tidak sementereng ketika pria kelahiran Medan itu bermain untuk timnas Indonesia. Selama berkarier di kancah sepakbola nasional, Ricky membela PSMS Medan, Arseto Solo, PS BPD Jateng, dan PSIS Semarang. Ia juga pernah menjadi top skor Galatama pada 1987 dan 1990.
Penyerang kelahiran 12 Maret 1963 juga dikenal sebagai Paul Breitner-nya Indonesia karena memiliki gaya main yang serupa: cepat, lincah, dan tajam. Breitner sendiri merupakan legenda timnas Jerman dan Bayern Munich. Momen yang paling dikenang dari Yacobi terjadi kala membela timnas terjadi di Asian Games 1986 dan juga SEA Games 1987.
Di Asian Games yang berlangsung di Korea Selatan (Korsel), Indonesia berada di grup C bersama Arab Saudi, Qatar, dan Malaysia. Indonesia lolos dengan catatan satu kali menang (1-0 kontra Malaysia), imbang (1-1 kontra Qatar), dan kalah (0-2 dari Arab Saudi). Di perempat final Indonesia berjumpa dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan di sini lah momen terbaik Ricky muncul.
Berada di jarak yang cukup jauh untuk mencetak gol, Ricky memperlihatkan naluri sebagai striker yang haus gol dengan melesakkan sepakan first time –bola belum menyentuh tanah- yang merobek gawang UEA. Skor pada kala itu berakhir 2-2 di waktu normal dan Indonesia lolos ke semifinal via kemenangan dari drama adu penalti. Tapi sayang, di semifinal mereka kalah telak 0-4 dari Korsel.
Tak mau larut dari kekalahan di Korsel, Ricky menebusnya dengan performa gemilang di ajang SEA Games 1987. Bersama Robby Darwis, Rully Nere, Jaya Hartoni, Ricky yang ditunjuk sebagai kapten oleh Bertje Matulapelwa (pelatih timnas Indonesia kala itu) mengantarkan Indonesia mengukir sejarah raihan medali emas pertama di ajang SEA Games.
Di final, Indonesia menang dramatis 1-0 atas Malaysia setelah melalui 90 menit pertandingan tanpa gol. Gol tercipta di babak tambahan melalui gol Ribut Waidi. Sejarah pun akan terus mengenang skuat yang dikapteni Ricky tersebut untuk sepanjang masa. Kini, Ricky menjalani kesibukannya sebagai pengelola sekolah sepakbola (SSB) Ricky Yacobi yang terletak di bilangan kompleks olahraga Senayan, Jakarta Pusat.
4. Kurniawan Dwi Yulianto
Kurniawan Dwi Yulianto merupakan salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki timnas Indonesia. Pemain yang dijuluki Si Kurus tersebut telah mengantongi 60 caps dengan koleksi 31 gol. Hingga 2014 lalu, Kurniawan juga telah membela 15 klub dari berbagai level kompetisi dalam maupun luar negeri. Ia merupakan produk program PSSI Primavera pada 1993.
Di era 90-an, Kurniawan merupakan striker yang sangat ditakuti oleh tim lawan. Pria kelahiran Magelang, 13 Juli 1976 itu punya kecepatan, kelincahan, dan akurasi tembakan penyelesaian yang menawan. Namun, dari pengakuannya sendiri, awalnya ia sebetulnya berposisi sebagai seorang bek.
Ia memulai karirnya di Diklat Salatiga dan kemudian hijrah ke Diklat Ragunan sebelum dikirim ke Italia untuk program PSSI Primavera yang berlaga di Italia kasta Serie C2.
Kurniawan sempat berlabuh di klub Swiss, FC Luzern, dan mengaku memiliki satu memori manis di sana. Pada 9 April 1995, FC Luzern menghadapi laga derbi kontra FC Basel. Ia mencetak gol kemenangan dalam laga yang berakhir 2-1 tersebut.
Memutuskan pensiun dari timnas pada 2005 dan dari sepak bola secara keseluruhan pada 2014, Kurniawan yang kini beristrikan seorang perempuan Malaysia itu aktif dalam Yayasan Olahraga Anak Nusantara yang dibentuknya bersama Melanie Putri dan Ibnu Jamil. Meski sudah memiliki lisensi kepelatihan yang mengijinkannya untuk melatih klub, Kurniawan berdalih lebih fokus ke pendidikan usia dini untuk anak-anak yang mencintai sepak bola dan olahraga lainnya.
5. Bambang Pamungkas
![]() |
| Bambang pamungkas |
Mantan pemain Persija yang akrab disapa Bepe ini adalah pemegang caps terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak untuk tim Merah Putih, yaitu bermain sebanyak 82 kali (laga yang terdaftar dalam oleh FIFA) dan mencetak 37 gol.
Pria kelahiran 10 Juni 1980 ini pernah merajai Asia Tenggara ketika menjadi top skor Piala Tiger (sekarang Piala AFF) tahun 2002, di mana ia mencetak delapan gol dalam enam pertandingan yang dijalaninya.
Tahun 2002 memang merupakan tahun emas bagi Bambang Pamungkas. Sepak terjangnya di Piala Tiger kala itu sungguh luar biasa. Setelah mencetak hat-trick kontra Kamboja dalam kemenangan 4-2 dan empat gol saat menghadapi Filipina (13-1), ia kembali menjadi pahlawan timnas dengan mencetak gol tunggal ke gawang Malaysia dalam babak semi-final. Gol yang tercipta di menit ke-75 tersebut disambut meriah oleh puluhan ribu suporter yang memadati Gelora Bung Karno. Namun, Bambang gagal mempersembahkan gelar juara untuk Indonesia setelah Merah Putih dikalahkan Thailand di partai final.
Itu lah 5 penyerang terbaik legendaris timnas Indonesia yang berkilau pada masa nya. dan masih akan banyak lagi pembahasan tentang seputar seputar bola
ini. silahkan di ikuti dan terimakasih



Komentar
Posting Komentar