3 Pelatih Terbaik Dunia
setelah bosan membahas pemain. kini giiliran nahkoda nya ni guys. apa lagi kalo bukan ngomongin tentang pelatih. pelatih sangatbeperan penting dalam menang atau kalah nya sebuah tim. nah kali ini seputar seputar bola akan membahas nya untuk anda silahkan di simak
1. Peter Bosz
Saat pria 53 tahun yang merupakan seorang mantan pelatih Vitesse, Peter Bosz, untuk pertama kalinya ditunjuk duduk di kursi panas milik Ajax, reaksi yang muncul adalah sinis, skeptis, dan bahkan penolakan secara terang-terangan. Sebagian besar kelompok fans fanatik Ajax di Amsterdam, dan bahkan salah satu kelompok suporter resmi, secara terang-terangan menunjukkan ketidaksenangan mereka pada sosok yang akan memegang klub kesayangan mereka ini, terutama karena masa lalunya terikat erat dengan Feyenoord, sang rival abadi.
Setahun berselang, rasanya lucu melihat bagaimana justru seorang mantan pemain Feyenoord inilah yang bisa memberikan gaya sepakbola yang begitu dekat dengan masa-masa kejayaan Ajax dulu, dibandingkan sosok sebelumnya, yang notabene adalah legenda mereka, Frank de Boer, dimana de Boer tidak memberikan sesuatu yang spesial selama empat setengah tahun menukangi Ajax. Ia berhasil membuat para fans terkagum-kagum, terpesona, dan bisa menyatukan diri kembali dengan klub legendaris ini.
Mengukir Jalan-nya Sendiri
Bosz selalu terlihat sebagai sosok yang tidak biasa. Bermain sebagai gelandang bertahan yang tangguh di sepanjang kariernya, di masa-masa sebelum peraturan Bosman berlaku, ia mengurus dan menegosiasikan sendiri kontraknya, sehingga tidak ada satupun klub yang bisa mengikatnya tanpa izin dirinya.
Saat Vitesse menolak, ia memilih untuk pindah ke klub amatir AGOVV dan memanjat sendiri ke puncak. Akhirnya ia berhasil, bermain selama enam musim di Feyenoord dan menjadi bagian dari skuat Belanda di Piala Eropa 92.
Ia kemudian menjadi direktur teknis di Feyenoord, di antaranya ia juga sempat dua kali secara sukses menjadi manajer Heracles, di mana ia memberikan hadiah promosi pada mereka di masa perdana dan kemudian membawa tim ini lolos ke Eropa.
Di tahun 2013, Bosz pindah ke Vitesse dan menghabiskan dua setengah tahun di Arhnem sebelum 18 bulan kemudian membuatnya berpetualang dari Vitesse ke Maccabi, ke Ajax, dan sekarang menjadi manajer Borussia Dortmund.
Pengaruh Besar Cruyff
Bosz, meski memiliki sejarah dengan Feyenoord, adalah pengagum Johan Cruyff dari masa mudanya, dan sebagai pemain Vitesse, ia bahkan punya tiket musiman Ajax. Saat ia menjadi bagian dari skuat Belanda di Piala Eropa 92, di bawah Rinus Michels yang legendaris, kabarnya ia akan berlari kembali ke kamar setelah pertemuan tim untuk mengisi buku catatan kecilnya dengan apa yang disampaikan sang manajer, dan memfokuskan diri pada persiapan untuk pertandingan.
Semenjak muda, Bosz tahu persis ia ingin menjadi pelatih. "Bukan sebuah rahasia saya ingin melatih di tim besar. Saya dulu bermain untuk tim besar di Feyenoord. Saya bahkan membela Belanda," ucapnya. "Tapi saya tidak pernah melihat diri sebagai pemain papan atas, saya hanya cukup bagus di lapangan. Tapi sebagai pelatih, saya sangat ingin bisa jadi yang terbaik."
Tim Barcelona milik Guardiola di musim 2009/11 yang memenangkan segalanya tetap menjadi tim ideal Bosz, seperti juga tim Piala Dunia Belanda di tahun 1974, terutama dengan energi luar biasa mereka dan usaha super keras saat melakukan pressing.
Saat mengadaptasi filosofi miliknya sendiri, Bosz mengandalkan permainan yang berpusat pada menggerakkan bola dengan cepat, dan membuat para pemainnya hanya berlari kencang di jarak pendek. Ia juga menjalankan 'peraturan lima detik' dalam hal pressing. Karena ini adalah waktu yang kira-kira dibutuhkan untuk sebuah tim berubah/transisi dari bentuk serangan ke bertahan saat kehilangan bola, maka sangat ideal untuk menyerang mereka di periode transisi ini, di mana mereka sedang sangat rapuh dan tidak tertata rapi. Karena itu, pemainnya sesegera mungkin setelah kehilangan bola, harus bisa menekan dengan tinggi dan keras ,lalu mencoba untuk memenangkan bola lagi dalam waktu lima detik saja.
Akhir yang Terlalu Dini
Bosz menyandarkan diri pada prinsip tua nan fundamental ala Total Football, dan menegaskan pentingnya ruang di lapangan pada pemainnya. Saat Anda menguasai bola, Anda harus membuat lapangan sebesar mungkin dan membuat lawan berpencar. Saat kehilangan bola, Anda tidak mundur, namun menyusut untuk membentuk pola yang rapi dan mencegah lawan maju ke depan.
Ini jelas adalah sepakbola gas-tinggi, tempo tinggi, dan pressing tinggi, yang mengembalikan aura Ajax yang sempat hilang selama beberapa tahun. Memang butuh waktu untuk semuanya menyatu dan bergerak kencang, tapi saat ini terjadi, Ajax sangatlah mempesona.
Tidak diragukan lagi banyak fans -bahkan yang sebelumnya menolak dirinya- kecewa dengan fakta bahwa setelah hanya satu tahun, 'Bosz Project' di Ajax harus berakhir secara dini.
Dari jauh, tampak sangat logis bagi seorang pelatih di Ajax untuk melangkah ke klub yang memiliki sumber daya lebih baik, dan di liga yang lebih sulit semacam Borussia Dortmund. Meski begitu, perselisihan internal dengan asisten pelatihnya, Dennis Bergkamp dan Hennie Sijkerman tampaknya memuluskan kepergiannya ini, terutama karena segalanya tampak begitu dramatis dan pahit.
Bosz seringkali mendapat kritik karena keras kepala dan idealis dengan gaya sepakbola-nya -sesuatu yang juga dilemparkan ke nama-nama semacam Guardiola dan Cruyff. Ini bisa jadi muncul juga karena rekor miliknya yang meski selalu memberikan hiburan luar biasa, Bosz masih belum mendapatkan trofi penting sebagai pelatih hingga saat ini.
Bersama Dortmund, Bosz sekarang punya skuat yang memiliki materi yang sama dengan tim Ajax yang ia butuhkan untuk bermain maksimal: talenta muda, mau bermain dengan ataupun tanpa bola, dan mampu berpikir cepat. Apakah ia mampu menciptakan tantangan yang cukup hebat bagi Bayern Munich di musim baru nanti dan lolos jauh di Eropa akan menjadi dasar penting ke kisahnya -cerita seorang pelatih yang dengan sabar menanti waktu, dan sekarang tampak siap untuk meledak ke angkasa.
2. Jurgen Klopp
Danny Blanchflower tidak sepenuhnya salah, tapi sepakbola lebih dari sekedar kejayaan. Ini adalah tentang kebahagiaan, kepemilikan, kesetiaan, kesenangan, kebanggaan, rasa sombong, dan tingkah laku -dan, saat memungkinkan, kejayaan juga.
Ada banyak manajer bisa memberikan beberapa hal di atas. Jurgen Klopp mungkin saja satu-satunya yang bisa memberikan semua hal tersebut.
Meski finis di posisi empat musim lalu yang mungkin tidak terlihat seperti sebuah misi penyelamatan yang sempurna bagi para fans yang penuh harapan ketika ia ditunjuk menjadi manajer, faktanya adalah dengan waktu singkat Klopp di Anfield, dia mampu mengubah klub yang kehilangan motivasi dan tanpa arah ini menjadi sebuah klub yang penuh harapan dan mempesona.
Perubahaan mood ini tampak jelas dalam peningkatan tim: enam bulan setelah ia mengambil alih, mereka lolos ke Final Kompetisi Eropa (walaupun kompetisi kasta kedua). Musim penuh pertamanya berakhir dengan peningkatan empat posisi di Premier League.
Kesuksesan di Awal
Di divisi di mana posisi enam besar diperebutkan begitu ketat (Arsenal finis di posisi lima dengan jumlah poin yang bisa membawa Manchester United juara Liga 20 tahun silam), satu-satunya kekurangan musim 2016/17 Liverpool adalah kesuksesan mereka sendiri di awal: sulit untuk tidak kecewa saat perebutan posisi pertama berubah menjadi kejar-kejaran ke posisi empat besar.
Namun fakta bahwa skuat Liverpool yang kurang dalam dan terus diganggu cedera dan bisa memasuki tahun baru sebagai salah satu calon juara adalah pujian tersendiri untuk kekuatan Klopp sebagai pelatih.
Dan 'pelatih' adalah kata yang operatif, karena strategi Klopp memang selalu berdasar dengan tidak mengandalkan -secara relatif, setidaknya- belanja besar yang sangat sering dilakukan tim-tim papan atas. Bukannya berbelanja setumpuk pemain baru setiap musim panas, Klopp bekerja keras untuk membuat apa yang ia miliki sekarang lebih baik. Nyaris semua pemain di klubnya berkembang ke level tertentu di bawah bimbingannya.
Peningkatan Adam Lallana, Jordan Henderson, dan Roberto Firmino -dimana semuanya nyaris tenggelam ketika ia datang- adalah yang paling terlihat jelas, walaupun layak diakui juga bagaimana kemampuan Sadio Mane, Georginio Wijnaldum, dan Joel Matip semuanya meningkat segera setelah bergabung.
Berkembang dengan Hemat
Di bursa transfer musim panas perdana Klopp, setahun silam, Liverpool menghabiskan kurang dari setengah uang yang dikeluarkan klub-klub Manchester, £50 Juta lebih sedikit dari Chelsea, dan hanya £ 2 Juta lebih banyak dari Leicester. Mereka adalah satu dari tiga klub Premier League yang mencatatkan keuntungan bersih, dan kelima pemain yang mereka beli memiliki rataan umur 24 tahun. Di masa solusi jangka pendek selalu jadi andalan, Klopp mencoba untuk mencapai kestabilan dengan mengutamakan solusi jangka panjang.
Pendekatan semacam ini mirip sekali dengan proyek Borussia Dortmund-nya dulu, di mana kejelian matanya dalam hal mencari potensi besar adalah salah satu yang paling tajam di Eropa (Ivan Perisic, Ilkay Gundogan, Shinji Kagawa, Mats Hummels, dan Robert Lewandowski semuanya dibeli dengan harga di bawah £ 5 Juta).
Kemampuannya untuk tetap menjaga kondisi tetap kompetitif dengan sang klub rival yang secara rutin setiap tahun mengambil bintang Dortmund tampak cukup ajaib. Fans Liverpool akan berharap kengototannya untuk membina darah muda bisa memunculkan satu atau dua pemain asli dari dalam semacam Mario Gotze.
Dengan itu semua, Anda bisa mendebatkan bahwa Klopp nyaris menjadi korban kesuksesan PR miliknya sendiri: ia begitu menempel dengan sifat dirinya -antusiasme yang tanpa batas dan menyenangkan itu- sehingga mudah sekali orang melupakan betapa bagusnya dirinya sebagai seorang manajer.
Namun ini juga tidak sepenuhnya benar, antusiasme semacam ini jugalah yang membuatnya menonjol dari yang lain. Ya, kemampuan Klopp sebagai ahli taktik dan motivator berada di atas dengan nama-nama terbaik lain, tapi ia juga mampu menyatukan para fans dengan cara yang jarang bisa dilakukan orang lain.
Dari Kuning ke Merah
Semuanya terbukti dengan teriakan kencang yang selalu muncul dari Yellow Wall di Westfalenstadion-nya Dortmund -dan meski di Merseyside masih alam proses- sudah terlihat bahwa Anfield semakin hidup semenjak kedatangan Klopp di pinggir lapangan.
Stadion yang sudah menghabiskan dua dekade tenggelam dalam kisah legendaris mereka sendiri dalam satu setengah tahun di bawah orang Jerman ini, mengalami setidaknya salah satu malam terbaik di kompetisi Eropa, kapasitas yang diperbesar, dan tingkat suara yang lebih kencang. Proses ini jelas bisa semakin kencang saat Liga Champions datang musim mendatang.
Sebut hal ini dengan apapun yang Anda mau -karisma, aura, va va voom, atau sederhana saja: ia disukai banyak orang- poinnya adalah Klopp memiliki hal ini. Dan di profesi di mana alasan, mencari kambing hitam, dan keluhan ala Mean Girls seringkali mendominasi, optimisme miliknya yang begitu cerah tampak menyegarkan.
Sepakbola - dan manajer khususnya - seringkali bersalah karena terlalu serius sepanjang waktu. Usaha keras Klopp untuk terus menikmati apapun itu adalah sebuah pengingat apa yang sebenarnya kita sukai di olahraga ini.
Masih Bisa Berkembang Lagi
Klopp tidak sempurna. Masih ada keraguan mengenai kemampuannya mengganti pemain (atau lebih tepatnya tidak mengganti pemain; sesuatu yang mungkin bisa diobati dengan skuat yang lebih lengkap), dan apakah gegenpressing miliknya bisa langsung dimainkan di sepakbola Inggris tanpa kesulitan jangka panjang.
Bagaimana masalah cedera menghantam skuatnya di paruh kedua musim, dan timnya yang tampak kehabisan tenaga setelah pertengahan musim, menunjukkan ada perubahan yang harus dilakukan.
Tapi dalam hal kekurangan, ini semua tidak terlalu fatal. Sebagai seorang manajer, sulit untuk membantah anggapan bahwa ia nyaris memiliki paket yang paling lengkap. Namun jauh di atas taktik, team-talk, dan jaket yang kerap ia gunakan, satu hal yang paling menonjol dari Klopp adalah ia selalu terlihat menyadari betapa pentingnya sepakbola -yang membuatnya menjadi manajer yang jauh lebih penting dibanding banyak yang lainnya.
3. Pep Guardiola
Guardiola datang ke sepakbola Inggris dalam salah satu masa paling restropektif mereka. Masih memiliki sisa-sia kebanggaan diri namun semakin merasa khawatir dengan posisi-nya sendiri, kedatangan salah satu ideologis paling handal di Eropa adalah sebuah rasa penasaran dan ancaman tersendiri; seseorang yang layak untuk disambut, tapi juga harus bisa dikalahkan.
Dan yang terjadi adalah kondisi yang menyelimuti musim perdana-nya di Manchester City adalah gabungan dari dua pandangan yang begitu berbeda. Dalam dua bulan perdana di Etihad, tim Guardiola meluncur mulis di negara ini dan dipenuhi dengan ide-ide baru dan kehidupan yang cerah. Ia datang, dan melakukan apa yang terbaik.
Kemudian datanglah White Hart Lane dan sebuah pelajaran penting di bawah matahari musim gugur. City dihancurkan oleh Tottenham dalam kekalahan 2-0 di awal Oktober dan semuanya pun tak pernah sama lagi. Guardiola pada akhirnya finis di posisi ketiga dengan jarak yang cukup jauh di Liga, sekaligus juga menderita kekalahan menyakitkan dari Monaco saat tersingkir di Liga Champions.
Titik Penilaian Seseorang
Tetap saja, sebuah penilaian untuk seorang manajer termasuk apakah ia mampu memisahkan dirinya dari kesuksesan timnya. Memori apa yang dicapai Guardiola di Barcelona dan Bayern Munich masih begitu jelas sehingga ketidamampuan City untuk mendapatkan kesuksesan yang sama dianggap, dengan alasan yang jelas, lebih ke kesalahan mereka sendiri, bukan Pep.
Pergerakan yang mulus dan lancar di lapangan nyaris tidak terjadi, dan tidak juga serangan kompleks yang sudah menjadi cirikhas miliknya selama satu dekade terakhir.
Barca dan Bayern sama-sama mendapatkan label sepakbola menyerang tersediri, namun sebagian dari kesuksesan mereka bergantung pada kemampuan untuk mendikte irama permainan. Mereka mengontrol bola dan tempramen para pemain. Ini tidak muncul di Inggris dan, lagi lagi, bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan sepenuhnya pada sang pelatih.
Jika kedatangan Guardiola memberikan ketertarikan tinggi pihak netral, ini juga memberikan sinar yang tidak adil untuk skuat yang ia warisi. City terlalu condong ke arah depan untuk waktu yang lama, namun hal yang seringkali terlewat ini tampak begitu jelas musim lalu.
Skuat Kebanyakan Penyerang
Pengaruh pemain-pemain semacam Sergio Aguero, David Silva, Kevin De Bruyne, dan Yaya Toure begitu jelas, sehingga fokus ke kelemahan skuat ini tampak tidak terlalu penting. Mempermasalahkan rekanan buruk di bek tengah dan full-back yang semakin menua, seringkali diabaikan karena kekuatan serangan yang begitu jelas ini.
Tidak sekarang, tentunya. Karena gaya Guardiola sudah begitu familiar, publik sepakbola tahu bagaimana timnya tampil dan terlihat - dan yang ini sudah gagal untuk beradaptasi dan menunjukkan apa masalah mereka sebenarnya.
Jika ia tidak bisa membuat mereka bermain dengan baik, maka pasti ada masalah.
Hanya seminggu setelah musim usai, para petinggi City langsung mengeluarkan senjata kuat: Bernardo Silva diamankan dari Monaco dengan harga 40 Juta Pound dan kiper Benfica, Ederson, menyusul dengan harga yang sedikit lebih murah. Lelucon Claudio Bravo sudah berakhir di City, dan pembelian semacam ini menunjukkan satu hal yang pasti: 'Ini adalah kesalahan kami, bukan Guardiola'.
Dukungan dari Belakang
Semenjak kedatangan Txiki Begiristain dan Ferrean Soriano di Manchester, klub ini sudah mempersiapkan diri untuk momen ini. Manuel Pellegrini mungkin manajer yang cukup bagus, namun ia tidak pernah bisa memastikan identitas dirinya dan klub ini tidak pernah terlalu meyakinkan saat memberikan dukungan.
Namun sekarang, dengan struktur yang tepat dan manajer kelas atas di Eropa memimpin mereka, keagresifan yang baru ini semakin jelas. Ini adalah kabar buruk untuk orang lain di Negara ini: jika pola awal ini berlanjut dan City terus mengucurkan uang ke seluruh penjuru Eropa, maka Guardiola akan mendapatkan skuat yang disusun secara khusus untuknya. Kuat secara taktis dan tanpa banding secara teknis, ini akan mampu menerjemahkan kemampuan hebat yang ia punya di lapangan.
Saat uang mengalir seperti ini, beberapa manajer dianggap terlalu bergantung pada buku cek yang dikeluarkan klub. Saat karir Guardiola sejauh ini terus diuntungkan dengan sumber daya yang luar biasa, baik secara finansial atau manusia-nya, level kesuksesan yang ia capai bergantung pada karakter yang ia punya: bagaimana ia memperhatikan setiap detil dan kemampuan dirinya untuk mendikte tren baru, bukannya mengikuti apa yang sedang berjalan.
Dengan dua hal ini akan saling bergabung di City, masa karirnya saat ini bisa terbukti menjadi titik di mana ia menyemen posisinya di puncak untuk selamanya.
nah itu lah 3 pelatih terbaik dunia. yang tentu nya masih banyak lagi pelatih pelatih terbaik lain nya dengan segudang prestasi yang di torehkan nya. terimakasih
1. Peter Bosz
![]() |
| Peter Bosz |
Saat pria 53 tahun yang merupakan seorang mantan pelatih Vitesse, Peter Bosz, untuk pertama kalinya ditunjuk duduk di kursi panas milik Ajax, reaksi yang muncul adalah sinis, skeptis, dan bahkan penolakan secara terang-terangan. Sebagian besar kelompok fans fanatik Ajax di Amsterdam, dan bahkan salah satu kelompok suporter resmi, secara terang-terangan menunjukkan ketidaksenangan mereka pada sosok yang akan memegang klub kesayangan mereka ini, terutama karena masa lalunya terikat erat dengan Feyenoord, sang rival abadi.
Setahun berselang, rasanya lucu melihat bagaimana justru seorang mantan pemain Feyenoord inilah yang bisa memberikan gaya sepakbola yang begitu dekat dengan masa-masa kejayaan Ajax dulu, dibandingkan sosok sebelumnya, yang notabene adalah legenda mereka, Frank de Boer, dimana de Boer tidak memberikan sesuatu yang spesial selama empat setengah tahun menukangi Ajax. Ia berhasil membuat para fans terkagum-kagum, terpesona, dan bisa menyatukan diri kembali dengan klub legendaris ini.
Mengukir Jalan-nya Sendiri
Bosz selalu terlihat sebagai sosok yang tidak biasa. Bermain sebagai gelandang bertahan yang tangguh di sepanjang kariernya, di masa-masa sebelum peraturan Bosman berlaku, ia mengurus dan menegosiasikan sendiri kontraknya, sehingga tidak ada satupun klub yang bisa mengikatnya tanpa izin dirinya.
Saat Vitesse menolak, ia memilih untuk pindah ke klub amatir AGOVV dan memanjat sendiri ke puncak. Akhirnya ia berhasil, bermain selama enam musim di Feyenoord dan menjadi bagian dari skuat Belanda di Piala Eropa 92.
Ia kemudian menjadi direktur teknis di Feyenoord, di antaranya ia juga sempat dua kali secara sukses menjadi manajer Heracles, di mana ia memberikan hadiah promosi pada mereka di masa perdana dan kemudian membawa tim ini lolos ke Eropa.
Di tahun 2013, Bosz pindah ke Vitesse dan menghabiskan dua setengah tahun di Arhnem sebelum 18 bulan kemudian membuatnya berpetualang dari Vitesse ke Maccabi, ke Ajax, dan sekarang menjadi manajer Borussia Dortmund.
Pengaruh Besar Cruyff
Bosz, meski memiliki sejarah dengan Feyenoord, adalah pengagum Johan Cruyff dari masa mudanya, dan sebagai pemain Vitesse, ia bahkan punya tiket musiman Ajax. Saat ia menjadi bagian dari skuat Belanda di Piala Eropa 92, di bawah Rinus Michels yang legendaris, kabarnya ia akan berlari kembali ke kamar setelah pertemuan tim untuk mengisi buku catatan kecilnya dengan apa yang disampaikan sang manajer, dan memfokuskan diri pada persiapan untuk pertandingan.
Semenjak muda, Bosz tahu persis ia ingin menjadi pelatih. "Bukan sebuah rahasia saya ingin melatih di tim besar. Saya dulu bermain untuk tim besar di Feyenoord. Saya bahkan membela Belanda," ucapnya. "Tapi saya tidak pernah melihat diri sebagai pemain papan atas, saya hanya cukup bagus di lapangan. Tapi sebagai pelatih, saya sangat ingin bisa jadi yang terbaik."
Tim Barcelona milik Guardiola di musim 2009/11 yang memenangkan segalanya tetap menjadi tim ideal Bosz, seperti juga tim Piala Dunia Belanda di tahun 1974, terutama dengan energi luar biasa mereka dan usaha super keras saat melakukan pressing.
Saat mengadaptasi filosofi miliknya sendiri, Bosz mengandalkan permainan yang berpusat pada menggerakkan bola dengan cepat, dan membuat para pemainnya hanya berlari kencang di jarak pendek. Ia juga menjalankan 'peraturan lima detik' dalam hal pressing. Karena ini adalah waktu yang kira-kira dibutuhkan untuk sebuah tim berubah/transisi dari bentuk serangan ke bertahan saat kehilangan bola, maka sangat ideal untuk menyerang mereka di periode transisi ini, di mana mereka sedang sangat rapuh dan tidak tertata rapi. Karena itu, pemainnya sesegera mungkin setelah kehilangan bola, harus bisa menekan dengan tinggi dan keras ,lalu mencoba untuk memenangkan bola lagi dalam waktu lima detik saja.
Akhir yang Terlalu Dini
Bosz menyandarkan diri pada prinsip tua nan fundamental ala Total Football, dan menegaskan pentingnya ruang di lapangan pada pemainnya. Saat Anda menguasai bola, Anda harus membuat lapangan sebesar mungkin dan membuat lawan berpencar. Saat kehilangan bola, Anda tidak mundur, namun menyusut untuk membentuk pola yang rapi dan mencegah lawan maju ke depan.
Ini jelas adalah sepakbola gas-tinggi, tempo tinggi, dan pressing tinggi, yang mengembalikan aura Ajax yang sempat hilang selama beberapa tahun. Memang butuh waktu untuk semuanya menyatu dan bergerak kencang, tapi saat ini terjadi, Ajax sangatlah mempesona.
Tidak diragukan lagi banyak fans -bahkan yang sebelumnya menolak dirinya- kecewa dengan fakta bahwa setelah hanya satu tahun, 'Bosz Project' di Ajax harus berakhir secara dini.
Dari jauh, tampak sangat logis bagi seorang pelatih di Ajax untuk melangkah ke klub yang memiliki sumber daya lebih baik, dan di liga yang lebih sulit semacam Borussia Dortmund. Meski begitu, perselisihan internal dengan asisten pelatihnya, Dennis Bergkamp dan Hennie Sijkerman tampaknya memuluskan kepergiannya ini, terutama karena segalanya tampak begitu dramatis dan pahit.
Bosz seringkali mendapat kritik karena keras kepala dan idealis dengan gaya sepakbola-nya -sesuatu yang juga dilemparkan ke nama-nama semacam Guardiola dan Cruyff. Ini bisa jadi muncul juga karena rekor miliknya yang meski selalu memberikan hiburan luar biasa, Bosz masih belum mendapatkan trofi penting sebagai pelatih hingga saat ini.
Bersama Dortmund, Bosz sekarang punya skuat yang memiliki materi yang sama dengan tim Ajax yang ia butuhkan untuk bermain maksimal: talenta muda, mau bermain dengan ataupun tanpa bola, dan mampu berpikir cepat. Apakah ia mampu menciptakan tantangan yang cukup hebat bagi Bayern Munich di musim baru nanti dan lolos jauh di Eropa akan menjadi dasar penting ke kisahnya -cerita seorang pelatih yang dengan sabar menanti waktu, dan sekarang tampak siap untuk meledak ke angkasa.
2. Jurgen Klopp
![]() |
| Jurgen Klopp |
Danny Blanchflower tidak sepenuhnya salah, tapi sepakbola lebih dari sekedar kejayaan. Ini adalah tentang kebahagiaan, kepemilikan, kesetiaan, kesenangan, kebanggaan, rasa sombong, dan tingkah laku -dan, saat memungkinkan, kejayaan juga.
Ada banyak manajer bisa memberikan beberapa hal di atas. Jurgen Klopp mungkin saja satu-satunya yang bisa memberikan semua hal tersebut.
Meski finis di posisi empat musim lalu yang mungkin tidak terlihat seperti sebuah misi penyelamatan yang sempurna bagi para fans yang penuh harapan ketika ia ditunjuk menjadi manajer, faktanya adalah dengan waktu singkat Klopp di Anfield, dia mampu mengubah klub yang kehilangan motivasi dan tanpa arah ini menjadi sebuah klub yang penuh harapan dan mempesona.
Perubahaan mood ini tampak jelas dalam peningkatan tim: enam bulan setelah ia mengambil alih, mereka lolos ke Final Kompetisi Eropa (walaupun kompetisi kasta kedua). Musim penuh pertamanya berakhir dengan peningkatan empat posisi di Premier League.
Kesuksesan di Awal
Di divisi di mana posisi enam besar diperebutkan begitu ketat (Arsenal finis di posisi lima dengan jumlah poin yang bisa membawa Manchester United juara Liga 20 tahun silam), satu-satunya kekurangan musim 2016/17 Liverpool adalah kesuksesan mereka sendiri di awal: sulit untuk tidak kecewa saat perebutan posisi pertama berubah menjadi kejar-kejaran ke posisi empat besar.
Namun fakta bahwa skuat Liverpool yang kurang dalam dan terus diganggu cedera dan bisa memasuki tahun baru sebagai salah satu calon juara adalah pujian tersendiri untuk kekuatan Klopp sebagai pelatih.
Dan 'pelatih' adalah kata yang operatif, karena strategi Klopp memang selalu berdasar dengan tidak mengandalkan -secara relatif, setidaknya- belanja besar yang sangat sering dilakukan tim-tim papan atas. Bukannya berbelanja setumpuk pemain baru setiap musim panas, Klopp bekerja keras untuk membuat apa yang ia miliki sekarang lebih baik. Nyaris semua pemain di klubnya berkembang ke level tertentu di bawah bimbingannya.
Peningkatan Adam Lallana, Jordan Henderson, dan Roberto Firmino -dimana semuanya nyaris tenggelam ketika ia datang- adalah yang paling terlihat jelas, walaupun layak diakui juga bagaimana kemampuan Sadio Mane, Georginio Wijnaldum, dan Joel Matip semuanya meningkat segera setelah bergabung.
Berkembang dengan Hemat
Di bursa transfer musim panas perdana Klopp, setahun silam, Liverpool menghabiskan kurang dari setengah uang yang dikeluarkan klub-klub Manchester, £50 Juta lebih sedikit dari Chelsea, dan hanya £ 2 Juta lebih banyak dari Leicester. Mereka adalah satu dari tiga klub Premier League yang mencatatkan keuntungan bersih, dan kelima pemain yang mereka beli memiliki rataan umur 24 tahun. Di masa solusi jangka pendek selalu jadi andalan, Klopp mencoba untuk mencapai kestabilan dengan mengutamakan solusi jangka panjang.
Pendekatan semacam ini mirip sekali dengan proyek Borussia Dortmund-nya dulu, di mana kejelian matanya dalam hal mencari potensi besar adalah salah satu yang paling tajam di Eropa (Ivan Perisic, Ilkay Gundogan, Shinji Kagawa, Mats Hummels, dan Robert Lewandowski semuanya dibeli dengan harga di bawah £ 5 Juta).
Kemampuannya untuk tetap menjaga kondisi tetap kompetitif dengan sang klub rival yang secara rutin setiap tahun mengambil bintang Dortmund tampak cukup ajaib. Fans Liverpool akan berharap kengototannya untuk membina darah muda bisa memunculkan satu atau dua pemain asli dari dalam semacam Mario Gotze.
Dengan itu semua, Anda bisa mendebatkan bahwa Klopp nyaris menjadi korban kesuksesan PR miliknya sendiri: ia begitu menempel dengan sifat dirinya -antusiasme yang tanpa batas dan menyenangkan itu- sehingga mudah sekali orang melupakan betapa bagusnya dirinya sebagai seorang manajer.
Namun ini juga tidak sepenuhnya benar, antusiasme semacam ini jugalah yang membuatnya menonjol dari yang lain. Ya, kemampuan Klopp sebagai ahli taktik dan motivator berada di atas dengan nama-nama terbaik lain, tapi ia juga mampu menyatukan para fans dengan cara yang jarang bisa dilakukan orang lain.
Dari Kuning ke Merah
Semuanya terbukti dengan teriakan kencang yang selalu muncul dari Yellow Wall di Westfalenstadion-nya Dortmund -dan meski di Merseyside masih alam proses- sudah terlihat bahwa Anfield semakin hidup semenjak kedatangan Klopp di pinggir lapangan.
Stadion yang sudah menghabiskan dua dekade tenggelam dalam kisah legendaris mereka sendiri dalam satu setengah tahun di bawah orang Jerman ini, mengalami setidaknya salah satu malam terbaik di kompetisi Eropa, kapasitas yang diperbesar, dan tingkat suara yang lebih kencang. Proses ini jelas bisa semakin kencang saat Liga Champions datang musim mendatang.
Sebut hal ini dengan apapun yang Anda mau -karisma, aura, va va voom, atau sederhana saja: ia disukai banyak orang- poinnya adalah Klopp memiliki hal ini. Dan di profesi di mana alasan, mencari kambing hitam, dan keluhan ala Mean Girls seringkali mendominasi, optimisme miliknya yang begitu cerah tampak menyegarkan.
Sepakbola - dan manajer khususnya - seringkali bersalah karena terlalu serius sepanjang waktu. Usaha keras Klopp untuk terus menikmati apapun itu adalah sebuah pengingat apa yang sebenarnya kita sukai di olahraga ini.
Masih Bisa Berkembang Lagi
Klopp tidak sempurna. Masih ada keraguan mengenai kemampuannya mengganti pemain (atau lebih tepatnya tidak mengganti pemain; sesuatu yang mungkin bisa diobati dengan skuat yang lebih lengkap), dan apakah gegenpressing miliknya bisa langsung dimainkan di sepakbola Inggris tanpa kesulitan jangka panjang.
Bagaimana masalah cedera menghantam skuatnya di paruh kedua musim, dan timnya yang tampak kehabisan tenaga setelah pertengahan musim, menunjukkan ada perubahan yang harus dilakukan.
Tapi dalam hal kekurangan, ini semua tidak terlalu fatal. Sebagai seorang manajer, sulit untuk membantah anggapan bahwa ia nyaris memiliki paket yang paling lengkap. Namun jauh di atas taktik, team-talk, dan jaket yang kerap ia gunakan, satu hal yang paling menonjol dari Klopp adalah ia selalu terlihat menyadari betapa pentingnya sepakbola -yang membuatnya menjadi manajer yang jauh lebih penting dibanding banyak yang lainnya.
3. Pep Guardiola
![]() |
| Pep Guardiola |
Guardiola datang ke sepakbola Inggris dalam salah satu masa paling restropektif mereka. Masih memiliki sisa-sia kebanggaan diri namun semakin merasa khawatir dengan posisi-nya sendiri, kedatangan salah satu ideologis paling handal di Eropa adalah sebuah rasa penasaran dan ancaman tersendiri; seseorang yang layak untuk disambut, tapi juga harus bisa dikalahkan.
Dan yang terjadi adalah kondisi yang menyelimuti musim perdana-nya di Manchester City adalah gabungan dari dua pandangan yang begitu berbeda. Dalam dua bulan perdana di Etihad, tim Guardiola meluncur mulis di negara ini dan dipenuhi dengan ide-ide baru dan kehidupan yang cerah. Ia datang, dan melakukan apa yang terbaik.
Kemudian datanglah White Hart Lane dan sebuah pelajaran penting di bawah matahari musim gugur. City dihancurkan oleh Tottenham dalam kekalahan 2-0 di awal Oktober dan semuanya pun tak pernah sama lagi. Guardiola pada akhirnya finis di posisi ketiga dengan jarak yang cukup jauh di Liga, sekaligus juga menderita kekalahan menyakitkan dari Monaco saat tersingkir di Liga Champions.
Titik Penilaian Seseorang
Tetap saja, sebuah penilaian untuk seorang manajer termasuk apakah ia mampu memisahkan dirinya dari kesuksesan timnya. Memori apa yang dicapai Guardiola di Barcelona dan Bayern Munich masih begitu jelas sehingga ketidamampuan City untuk mendapatkan kesuksesan yang sama dianggap, dengan alasan yang jelas, lebih ke kesalahan mereka sendiri, bukan Pep.
Pergerakan yang mulus dan lancar di lapangan nyaris tidak terjadi, dan tidak juga serangan kompleks yang sudah menjadi cirikhas miliknya selama satu dekade terakhir.
Barca dan Bayern sama-sama mendapatkan label sepakbola menyerang tersediri, namun sebagian dari kesuksesan mereka bergantung pada kemampuan untuk mendikte irama permainan. Mereka mengontrol bola dan tempramen para pemain. Ini tidak muncul di Inggris dan, lagi lagi, bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan sepenuhnya pada sang pelatih.
Jika kedatangan Guardiola memberikan ketertarikan tinggi pihak netral, ini juga memberikan sinar yang tidak adil untuk skuat yang ia warisi. City terlalu condong ke arah depan untuk waktu yang lama, namun hal yang seringkali terlewat ini tampak begitu jelas musim lalu.
Skuat Kebanyakan Penyerang
Pengaruh pemain-pemain semacam Sergio Aguero, David Silva, Kevin De Bruyne, dan Yaya Toure begitu jelas, sehingga fokus ke kelemahan skuat ini tampak tidak terlalu penting. Mempermasalahkan rekanan buruk di bek tengah dan full-back yang semakin menua, seringkali diabaikan karena kekuatan serangan yang begitu jelas ini.
Tidak sekarang, tentunya. Karena gaya Guardiola sudah begitu familiar, publik sepakbola tahu bagaimana timnya tampil dan terlihat - dan yang ini sudah gagal untuk beradaptasi dan menunjukkan apa masalah mereka sebenarnya.
Jika ia tidak bisa membuat mereka bermain dengan baik, maka pasti ada masalah.
Hanya seminggu setelah musim usai, para petinggi City langsung mengeluarkan senjata kuat: Bernardo Silva diamankan dari Monaco dengan harga 40 Juta Pound dan kiper Benfica, Ederson, menyusul dengan harga yang sedikit lebih murah. Lelucon Claudio Bravo sudah berakhir di City, dan pembelian semacam ini menunjukkan satu hal yang pasti: 'Ini adalah kesalahan kami, bukan Guardiola'.
Dukungan dari Belakang
Semenjak kedatangan Txiki Begiristain dan Ferrean Soriano di Manchester, klub ini sudah mempersiapkan diri untuk momen ini. Manuel Pellegrini mungkin manajer yang cukup bagus, namun ia tidak pernah bisa memastikan identitas dirinya dan klub ini tidak pernah terlalu meyakinkan saat memberikan dukungan.
Namun sekarang, dengan struktur yang tepat dan manajer kelas atas di Eropa memimpin mereka, keagresifan yang baru ini semakin jelas. Ini adalah kabar buruk untuk orang lain di Negara ini: jika pola awal ini berlanjut dan City terus mengucurkan uang ke seluruh penjuru Eropa, maka Guardiola akan mendapatkan skuat yang disusun secara khusus untuknya. Kuat secara taktis dan tanpa banding secara teknis, ini akan mampu menerjemahkan kemampuan hebat yang ia punya di lapangan.
Saat uang mengalir seperti ini, beberapa manajer dianggap terlalu bergantung pada buku cek yang dikeluarkan klub. Saat karir Guardiola sejauh ini terus diuntungkan dengan sumber daya yang luar biasa, baik secara finansial atau manusia-nya, level kesuksesan yang ia capai bergantung pada karakter yang ia punya: bagaimana ia memperhatikan setiap detil dan kemampuan dirinya untuk mendikte tren baru, bukannya mengikuti apa yang sedang berjalan.
Dengan dua hal ini akan saling bergabung di City, masa karirnya saat ini bisa terbukti menjadi titik di mana ia menyemen posisinya di puncak untuk selamanya.
nah itu lah 3 pelatih terbaik dunia. yang tentu nya masih banyak lagi pelatih pelatih terbaik lain nya dengan segudang prestasi yang di torehkan nya. terimakasih



Komentar
Posting Komentar